CAGAR BUDAYA DI NAGARI SARIBU RUMAH GADANG | PT . Joy Holidays Tour and Travel
Home » , , , , , , , , » CAGAR BUDAYA DI NAGARI SARIBU RUMAH GADANG

CAGAR BUDAYA DI NAGARI SARIBU RUMAH GADANG

CAGAR BUDAYA DI NAGARI SARIBU RUMAH GADANG.


Sumatera barat merupakan salah satu negeri terbanyak beragama Islam. Masyarakat tersebut menjadikan Al quran sebagai pedoman hidup, penduduk Sumatera Barat prioritas memakai bahasa Minangkabau. Salah satu daerah yang saat ini yang masih banyak memiliki peninggalan peradaban Minangkabau di masa lalu yaitu Kabupaten Solok Selatan. Kabupaten Solok Selatan merupakan buah dari perjuangan panjang yang dimulai sejak tahun 1950-an yang ditandai dengan diadakannya Konferensi Timbulun. Pada Konferensi Timbulun saat itu digagas rencana pembentukan sebuah kabupaten dengan nama Kabupaten Sehilir Batang Hari yang memasukan wilayah Kecamatan Lembah Gumanti (Alahan Panjang), Pantai Cermin (Surian), Sungai Pagu (Muaro Labuh) dan Sangir (Lubuk Gadang). Perjuangan panjang itu baru tercapai setelah disahkannya Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2003.
Gambar
Gambar
Gambar
Pada 7 Januari 2004 diresmikanlah 24 kabupaten baru di Indonesia yang tiga di antaranya terdapat di Sumatera Barat, yakni Kabupaten Solok Selatan, Dharmasraya, dan Pasaman Barat.
Kabupaten Solok Selatan berada pada jajaran Pegunungan Bukit Barisan yang termasuk dalam daerah Patahan Semangka.  Luas wilayah lebih kurang 3.590 Km². Tepatnya berada di bagian selatan Provinsi Sumatera Barat. Batas-batas wilayah Kabupaten Solok Selatan adalah: Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Solok. Sebelah Selatan dengan Kabupaten Kerinci (Provinsi Jambi). Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Pesisir Selatan. Sebelah Timur dengan wilayah Kabupaten Dharmasraya. Ibu kota Kabupaten Solok Selatan sendiri ditetapkan berkedudukan di Padang Aro. Jarak antara Padang Aro dengan Kota Padang adalah 166 Km. Secara administratif, sejak tahun 2007 Kabupaten Solok Selatan terdiri dari tujuh kecamatan. Secara keseluruhan kabupaten ini terdiri dari 39 nagari dan 215 jorong. Tiap kecamatan ini memiliki luas yang bervariasi. Kecamatan terluas adalah Kecamatan Sangir Batang Hari dengan luas 752 km2 dan Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh dengan luas 673 km2. Kecamatan terkecil adalah Kecamatan Sangir Jujuan dengan luas 279 km2 dan Kecamatan Pauh Duo dengan luas 265 km2. Kabupaten Solok Selatan memiliki banyak aset pariwisata yang dikelompokkan atas 4 kategori yaitu: wisata alam, wisata sejarah, wisata budaya dan wisata petualangan.
Sebagian besar penduduk Kabupaten Solok Selatan adalah beretnis minangkabau yang wilayah adatnya terbagi dua, yaitu Alam Surambi Sungai Pagu di bagian barat dan  di Rantau XII bagian timur. Masyarakat adat Alam Surambi Sungai Pagumendiami Lembah Muara Labuh sepanjang aliran Batang Suliti dan Batang Bangko, masyarakat Rantau XII koto mendiami daerah sepanjang aliran Batang Sangir. Di samping dihuni oleh etnis Minangkabau, Kabupaten Solok Selatan juga dihuni oleh etnis Jawa. Etnis Jawa datang sebagai transmigran seperti di Nagari Sungai Kunyit dan Dusun Tangah, namun ada juga yang datang bekerja di sektor perdagangan dan karyawan pabrik.
Kabupaten Solok Selatan sangat terkenal dengan situs cagar budayanya yang sangat banyak, namun situs cagar budaya yang ada di Kabupaten Solok Selatan belum mendatangkan nilai ekonomi bagi daerah tersbut, hal ini disebabkan, belum terkelolanya situs budaya yang ada. Solok Selatan yang memiliki filosofi sarantau sasurambi memiliki banyak situs budaya, namun ma­syarakat pada umumnya tidak mengetahui bahwa situs-situs budaya bisa berdampak terhadap perkem­bangan ekonomi masyarakat sekitar. Pariwisata yang sangat terkenal di Kabupaten Solok Selatan adalah banyaknya situs budaya di daerah tersebut, salah satunya daerah yang memiliki  sederetan rumah gadang yang menjadi situs cagar budaya dari masyarakat Minangkabau.
Gambar
Gambar
Tak heran,  Dr. Meutia Hatta, putri dari Prok­lamator M. Hatta semasa menjabat sebagai Deputi di Departemen Pariwisata setelah kunju­ngan­nya ke kabupaten Solok selatan,  mem­beri julukan sebagai lokasi cagar budaya di daerah tersebut dengan nama “Nagari seribu rumah gadang”.  Nagari saribu rumah gadang terletak di Nagari Koto Baru, Kecamatan Sungai Palu, Muaro Labuah. Menurut keterangan Wafdi, seorang mantan wali nagari di daerah tersebut menjelaskan Kampung nagari saribu rumah gadang tersebut memiliki 3 macam bentuk rumah gadang yang berjumlah ratusan. Rumah gadang tersebut didirikan sekitar tahun 1700-an oleh masyarakat Minangkabau. Rumah gadang tersebut disetiap rumah memiliki sebuah lumbung padi. Namun dikarenakan termakan usia, rumah gadang tersebut sudah banyak yang rusak dan mulai direnofasi oleh sipemilik dan ada pula dibiarkan hancur karena tidak ada biaya untuk memperbaiki dan ada pula sipemilik berada di negeri rantau dan memiliki kehidupan baru. Rumah gadang tersebut yang masih memiliki desain atau model yang asli sejak tahun 1700-an tersebut hanya tinggal 1 buah dan pernah dijadikan lokasi pembuatan film’’ Dibawah lindungan ka’bah” katanya.
Gambar
Gambar
Gambar
Saat Singgalang berkunjung ke lokasi cagar budaya tersebut, yaitu nagari seribu rumah gadang, terlihat banyaknya gonjong rumah gadang yang menghiasi rumah warga, namun ada pula yang sudah rusak parah dan tidak dapat digunakan lagi karena kayu yang sudah lapuk. Rumah gadang yang berjejer rapat, lumbung padi menghiasi halaman rumah, memperlihatkan pada dahulunya rakyat di daerah tersebut pada umumnya sangat kaya dan membuktikan kebersamaan dan persatuan dalam suatu daerah tersebut. Walaupun umur rumah tersebut sudah sangatlah tua, di setiap rumah tersebut masih ada tinggal amak rumah yang umurnya sudah sangatlah tua. Walaupun umur tua, semangat menceritakan sejarah dan seduhan teh panas yang disediakan oleh sang cucu amak rumah memberikan kedekatan yang sulit untuk berpisah. Pada umumnya amak rumah disetiap penghuni rumah gadang tersebut sekitar 90-an. 
Gambar
Gambar
Gambar
Gambar
Walaupun sudah menjadi situs cagar budaya di daerah Kabupaten Solok Selatan tersebut, sangat perlunya perhatian pemerintah kembali agar situs cagar budaya yang ada di daerah tersebut tidak habis, perlunya perawatan dan penjagaan terhadap barang bersejarah di daerah tersebut agar situ budaya minangkabau terjaga dan berumur panjang sehingga anak cucu bisa menikmati indahnya bangunan Rumah Gadang di “Nagari Saribu Rumah Gadang”.(Foto dan narasi oleh Desrian Eristha)  
Gambar    
http://yathada.wordpress.com/2013/01/23/cagar-budaya-di-nagari-saribu-rumah-gadang/

0 komentar:

Poskan Komentar